Fakta Dan Sejarah Tentang Stigma PKI Di Madiun

Sejarah adalah suatu hal terkait apapun itu yang terjadi di masa lampau yang kemudian dikaji untuk digunakan sebagai pembelajaran di masa yang akan datang. Mungkin pengertian tersebut benar adanya, bahwa sejarah ada bukan hanya untuk dikenang, tapi juga dikaji dan dipelajari untuk kehidupan yang lebih baik lagi dari sejarah yang telah tercipta. Hidup tak bisa dilepaskan dari sejarah, baik itu sejarah membanggakan maupun sejarah kelam yang mengenaskan. Setiap bangsa atau negara dalam perjalanannya pasti memiliki cerita sejarah, terlebih lagi sejarah kelam.

Partai Komunis Indonesia, siapa yang tidak mengetahuinya atau mungkin dengan mendengar akronimnya saja yaitu PKI, pasti setiap orang dinegeri ini tau akan hal itu bahkan tidak sedikit yang sensitif terhadap hal tersebut. Semua tahu apa yang mereka lakukan selama berada di tanah negeri ini. Bahkan sulit untuk mendapat pandangan positif dimata rakyat Indonesia karena masa lalu yang telah mereka lakukan.

Banyak peristiwa kemanusiaan yang terjadi di Indonesia ini di masa lalu yang semua didalangi oleh PKI, diantaranya awal mula kenapa PKI dianggap suatu hal yang benar-benar berbahaya bagi bangsa ini yaitu Peristiwa Madiun tahun 1948. Peristiwa yang tak akan bisa berlalu begitu saja dari ingatan warga kota Pecel dahulu maupun kini. Pemberontakan komunis yang terjadi pada tanggal 18 September 1948 ini dilakukan oleh Front Demokrasi Rakyat, yang terdiri atas Partai Komunis Indonesia sendiri, kemudian Partai Sosialis Indonesia, Partai Buruh Indonesia, Pemuda Rakyat, dan Sentral Organisasi Buruh Seluruh Indonesia.

Bagi warga Madiun, pemberontakan Partai Komunis Indonesia (PKI) di tahun 1948 merupakan bagian dari sejarah yang amat kelam. Apalagi ribuan nyawa berjatuhan saat peristiwa tersebut. Dalam sejarahnya, PKI disebut dapat menduduki Madiun hanya selama 13 hari. Selama itulah PKI melakukan pembantaian pada sejumlah tokoh maupun ulama di Madiun. Ironisnya, hal ini justru memicu anggapan bahwa Madiun adalah basis atau kota PKI, sehingga warga Kota Pecel ini kerap dituding sebagai keturunan atau bahkan simpatisan PKI.

Stigma bahwa madiun adalah kota PKI masih kerap dilontarkan oleh kalangan masyarakat dari luar daerah, hal ini juga kadang dirasakan oleh para perantau yang berasal dari madiun yang sering dinilai atau mendapat stigma-stigma tersebut. Padahal sebenarnya PKI sama sekali bukan berasal dari Madiun. Singkatnya, bisa dilihat tujuan PKI memang menguasai Madiun, jika memang PKI berasal dari Madiun “untuk apa bertujuan menguasai daerahnya sendiri?”. Kemudian juga para tokoh-tokoh PKI seperti Musso,Amir Syarifudin,dll bukan dan tidak ada yang berasal dari Madiun ataupun sekitarnya. Hal ini juga yang menjadi bukti bahwa memang Madiun bukan sarang atau basis PKI melainkan korban dari Pemberontakan PKI itu sendiri.

Memang terkadang berat untuk menghapus suatu sejarah. Apalagi sejarah penting dan kelam dari suatu bangsa yang berdiri. Demikianlah diperlukan sosialisasi dan penanaman nilai-nilai pancasila dan mengingatkan pada generasi penerus bangsa agar jangan pernah melupakan sejarah yang fakta dan sesungguhnya. Pada akhirnya kita tidak bisa menghapus sebuah sejarah, yang dapat kita lakukan hanyalah merenungkan dan mengatasinya agar tidak terulang kembali di masa mendatang jika sejarah itu adalah yang buruk. Dan bisa dikembangkan atau dipelajari agar bermanfaat di masa mendatang jika sejarah itu adalah baik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Post

KEBERADAAN NAGAKEBERADAAN NAGA

Punggungnya terdiri dari barisan perisai yang rapat. Saking rapatnya, udara bahkan tak bisa melewatinya. Dengusannya mengeluarkan kilatan cahaya. Ia bagai sinar fajar. Lubang hidungnya mengeluarkan asap, seperti panci mendidih di